Sabtu, 27 November 2010

Selasa, 29 Desember 2009

PENDEKATAN KONTEKTUAL

Pendekatan kontektual memiliki tujuh komponen utama, yaitu kontruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat-belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya.

Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam proses pembelajarannya. Pendekatan CTL bisa diterapkan dalam kurikulum apapun dan mata pelajaran apapun dan kelas apa pun.

Cara penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Berikut langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas :

1. Kembangkan pemikiran anak bahwa anak dapat bernalar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya

2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan menemukan (inkuiri) untuk semua topik

3. Kembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya

4. Ciptakan masyarakat-belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)

5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran

6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan

7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Tujuh komponen CTL

1. Konstruktivisme (construktivism)

Kontruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan CTL. Yaitu bahwa pengetahuan dibangun dari sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan belajar.

Dalam pandangan kontruktivisme strategi pemerolehan lebih diutamakan dibanding dengan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.

Yang perlu dilakukan guru adalah :

  1. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
  2. memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
  3. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Menurut Plaget manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Pengalaman sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak dalam otak manusia tersebut. Struktur pngetahuan dikembangkan dalam otak manusia melallui dua cara, yaitu asimilasi atau akomodasi. Asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifiksi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hadirnya pengetahuan baru.

Pada umumnya kita juga sudah menerapkan filosofi ini dalam pembelajaran sehari-hari yaitu ketika kita merancang pembelajarna dalam bentuk siswa bekerja, pektik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemontrasikan, menciptakan ide, dan sebagainya. Mari kita kembangkan cara-cara tersebut lebih banyak lagi.

2 Menemukan (Inquiri)

menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahun dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Topik mengenal perkembang biakan makhluk hidup, sudah seharusnya ditemukan sendiri oleh siswa, bukan menurut buku.

Siklus inquiri :

  1. Observasi
  2. Bertanya
  3. Mengajukan dugaan
  4. Mengumpulkan data
  5. Penyimpulan

Inquiri dapat diterapkan pada sumua mata pelajaran : bahasa Indonesia (menemukan cara menulis paragraf deskripsi yang indah), IPS (membuat sillah raja-raja Majapahit), PKn (menemukan perilaku baik dan perilaku buruk) kata kunci dari inquiri adalah siswa menemukan sendiri.

3. Bertanya (Questioning)

bertanya dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong siswa mngetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan melakukan wawancara atau melaporkan hasil wawancara yang dilakukan secara berpasangan atau klasikal. Bahan yang paling baik untuk kegiatan ini ialah menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan untuk wawancara.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Fokus kegiatan ini ialah terjadinya komunikasi dua arah. Kegiatan ini dapat dilaksanakan melalui diskusi , guru bertanya jawab dengan siswa untuk membahas permasalahan yan dihadapi pada proses pembelajaran. Dalam praktiknya pebelajaran ini berwujud dalam pembentukan kelompok kecil, pembentukan kelompok besar mendatangkan ahli ke kelas, belajar dengan kelas sederajad bekeja kelompok dengan kelas di atasnya dan bekerja dengan masyarakat. Bahan ajar yang dapat dipakai untuk pembelajaran ini ialah temuan atau hasil kerja siswa.

5. Pemodelan ( Modeling)

Maksud Pemodelan adalah dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yag bisa ditiru. Model itu bisa cara pengoperasian sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris dan sebagainya.

Sebagai guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemontrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dan menelusuri bacaansecara cepat dengan menempatkan gerak mata. Ketika guru mendemontrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa mengamati guru dalam membaca. Gerak mata guru dalam menelusuri bacan menjadi perhatian utama siswa.

Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk memberi contoh temannya untuk melafalkan suatu kata. Jika ada siswa yang pernah menjuari lomba baca puisi atau memenangkan kontes berpidato siswa itu dapat ditunjuk mendemontrasikan keahliannya. Siswa contoh tersebut dikatakan sebagai model.

Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang wartawan dapat dihadirkan pada pembelajaran menulis berita.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi ialah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pegayaan atau revisi dari pengetahuan